Pentingnya Pendaftaran Merek

Article

Pentingnya Pendaftaran Merek

Sejak masa pandemi ini berlangsung, banyak orang mencari peluang usaha untuk membuka usaha sendiri. Banyak pula orang yang mecoba berusaha secara kreatif dengan merek ciptaan sendiri maupun menggunakan merek yang mirip dengan produk-produk terkenal. Dari sini bisa dilihat bahwa sebuah merek merupakan salah satu instrumen dalam bisnis untuk memperkenalkan produk barang atau jasa yang juga merupakan aset tidak berwujud namun tetap memiliki nilai ekonomis.

Definisi dari Merek sendiri terdapat pada Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (“UU 20/2016”), yaitu tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 dimensi dan/atau 3 dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.

Kemudian di dalam Pasal 2 ayat (2) UU 20/2016 dijelaskan bahwa hak atas Merek adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada pemilik Merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri Merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya.

Jika bicara tentang merek, hal yang terpenting adalah pendaftaran merek itu sendiri. Mengapa pendaftaran merek itu penting? Hal ini karena Hak Merek muncul pada saat setelah Merek tersebut terdaftar dengan mendaftarkan Merek kepada Menteri Hukum dan HAM. Namun demikian, pemilik Merek baru memiliki hak gugat apabila terdapat pelanggaran pemakaian Merek pada saat Sertipikat Merek tersebut terbit. Sebagai contoh, X mendaftarkan Mereknya pada tahun 2016, akan tetapi Sertipikat Mereknya baru terbit pada tahun 2018. Dengan demikian, maka X telah menjadi pemilik Merek tersebut sejak tahun 2016 ketika ia mendaftarkan Mereknya. Namun, hak X untuk menggugat apabila ada pelanggaran pemakaian Merek milik X baru timbul pada tahun 2018.

Dari penjelasan di atas, maka dapat dikatakan pendaftaran merek adalah sebuah bukti atas kepemilikan merek yang dimiliki oleh sebuah badan atau perseorangan. Merek ini penting untuk menandakan sebuah produk barang maupun jasa yang menjadi pembeda antara produk barang atau jasa lainnya. Selain itu, merek biasanya menjadi penilai bagi konsumen untuk menilai kualitas dari barang atau jasa tersebut. Pendaftaran merek juga penting untuk mencegah orang lain memakai merek yang kita miliki.

Permohonan pendaftaran Merek diajukan oleh pemohon atau kuasanya kepada Menteri secara elektronik atau non-elektronik. Masa berlaku Hak Merek adalah 10 tahun sejak tanggal penerimaan permohonan yang telah memenuhi persyaratan minimum dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Kemudian, berdasarkan Pasal 21 ayat (1) UU 20/2016 permohonan dapat ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:

  • Merek terdaftar milik pihak lain atau dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
  • Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
  • Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa baik yang sejenis ataupun tidak sejenis; dan
  • Indikasi Geografis terdaftar.

Perlu diingat bahwa hak merek di Indonesia berlaku first to file, siapa yang mendaftarkan mereknya terlebih dahulu maka dia yang memiliki hak merek tersebut. Sebagai contoh kasus yang saat ini banyak beredar, yaitu merek Geprek Bensu. Kasus ini bermula dari Yangcent, yang mendaftarkan merek I AM GEPREK BENSU SEDEP BENEERRR atas nama PT AYAM GEPREK BENNY SUJONO yang disingkat menjadi GEPREK BENSU pada tanggal 3 Mei 2017. Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 2017 Ruben Onsu mendaftarkan merek dagang miliknya yaitu GEPREK BENSU. Namun seiring berjalannya waktu, Ruben Onsu menemunkan beberapa merek yang menggunakan kata ‘BENSU’ yang telah terdaftar terlebih dahulu. Sehingga ia mengajukan pembatalan merek pada beberapa merek yang menggunakan kata ‘BENSU’ termasuk I AM GEPREK BENSU SEDEP BENEERRR dengan alasan terdapat persamaan pada pokoknya dengan merek GEPREK BENSU. Namun demikian, ketua majelis hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa pendaftaran merek GEPREK BENSU justru dilakukan dengan itikad tidak baik karena meniru merek I AM GEPREK BENSU SEDEP BENEERRR yang telah didaftarkan terlebih dahulu, sehingga Mahkamah Agung menolak kasasi kasus tersebut.

Mengingat pentingnya perlindungan hukum terhadap merek bagi setiap pelaku usaha, maka sangat disarankan bagi setiap orang yang memulai usahanya untuk mendaftarkan merek dagang produk barang atau jasanya.

Artikel ini dibuat secara umum hanya untuk kepentingan publikasi dari ANR Law Firm dan bukan sebagai nasihat hukum terkait kondisi anda. Apabila anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai topik ini, anda dapat menghubungi Advokat yang membuat artikel ini pada anrlawfirm@anr-lawfirm.com.

Penulis : Adinda Rifdahtama, S.H.

Share this Post: